Ustadz Ihsan tentang KH.Badri Mashduqi

Beberapa nasihat KH.Badri Mashduqi sewaktu saya ngaji  :

ليس عليك إسعاد كل الناس
ولكن عليك عدم إيذائهم

Tidaklah mungkin kita dapat membahagiakan semua orang, namun usahakanlah semaksimal mungkin utk tidak menyakiti dan mengganggu setiap orang.

ولا تكثر من الشكوى
فيأتيك الهمّ والضيق

Janganlah banyak mengeluh ttg situasi dan kondisi yg dihadapi, karna hal tsb. akan membuatmu resah dan gelisah.

Pesan tersebut, disampaikannya ketika beliau jarang di undang di NU dan konsentrasi di Thariqah Tijani, yaitu kira-kira tahun 1995 . Nasihat beliau itu disampaikan setelah magrib di Masjid Darussalam PP.Badridduja, Kraksaan.

Beliau luar biasa dalam memikirkan santrinya, sampai-sampai setiap doa, sehabis wadhifah (Tijani), ba’da magrib , tempatnya di Mushalla Asas (Badridduja), sampai di- lafal :
اللهم اجعل طلابي عالما و العاملين

Ya Allah jadikan santri-santriku menjadi orang yang alim dan mengamalkan ilmunya.

Beliau ketika itu menangis, sangking nemennya memikirkan santrinya. Cukup terasa, itulah guru kita yang patut kita tiru dan beruswah kepadanya.

Dari itu, saya merasa terinspirasi ayat Al-Qur’an, di mana bahwa balasan bagi yang berbuat baik dan yang berbuat Jelek.

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.“

Saya betul-betul menyaksikan Gurunya, KH.Badri Mashduqi.
“Beliau (KH.Badri Mashduqi) setiap selesai wadhifah (wirid Tijani) ba’da Magrib, yang sering nangis waktu nyampek pada lafad (bacaan) :”Allahumma ij’al thullabi ‘aaliman wal amiliina (Ya Allah…jadikanlah semua santriku menjadi orang alim yang dapat mengamalkan)”

Cukup terasa, bibarokati Syaikhona Badri Mashduqi, saya bisa diberi kepercayaan oleh masyarakat jadi (maaf karna bagi saya terasa belum pantas) menjadi Pengasuh Pesantren Miftahul Islam, Lumajang.

Terdapat amalan Kyai Badri, “Allah gercager beden kauleh, Allah gertengger beden akulah, Allah buambu beden kauleh, Allah delandel beden kauleh. Lailahaillah Muhammad rosulullah”

Kata beliau dulu berpesan sama saya, mun terro muljeeh mun malem jek tedung senajen tak neguk tasbih sepenting enga’ ka Allah padenah awirid apapole sambih neguk (Jika ingin mulia, tiap malamnya jangan tidur meskipun tidak megang tasbih, yang penting pada Allah, sama dengan berwirid, apalagi sambil megang tasbih)”.

Kiai pernah dauh dulu di Masjid, setelah isya’,  waktu itu acara Isra’ Mi’raj. Dauhnya,  “Kalau saya ngaji Fathul Qorib, ngaji depannya saja, tapi jangan niru saya”. Kata beliau menambahkan, “Kamu harus belajar yang tekun biar alim”.

Dari dauh beliau itu berarti memang beliau ladunni, semua kitab dikuasai dan hafal. Itu menurut saya, saya menilainya seperti itu.

* Hasil beberapa info dari Ustadz Ihsan, pengasuh PP.Miftahul Islam, Lumajang, yang disampaikan kepada saya (Saifullah, A.n. Direktur The Syaikh Badri Institute). Disampaikan pada bulan Maret-April 2017

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed