Niatnya Orang Masuk Nu Dan Kharisma Alim Ulama

Dikutip dari prasaran Almarhum KH.Badri Mashduqi, sewaktu beliau menjadi pengurus sebagai Rais Tsalis NU Wilayah Jawa Timur (judul: “Prasaran KH.Badri Mashduqi, Wakil Rais Tsalis Syuriyah Wilayah NU Jawa Timur”, Kraksaan, 25 Mei 1979 M./28 J.Akhir 1399 H.):

“Orang masuk NU itu niatnya macam-macam. Ada yang ikhlas karena Allah, dia sadar, mengerti, menghayati dan setia kepada kebenaran asaz tujuan Jam’iyah, lalu dia masuk dan memperjuangkannya. Tapi ada pula yang masuk karena ikut-ikutan, karena cari keuntungan atau cari selamat. Kalau niat masuk NU (karena niat) yang pertama maka 100 persen dapat dijamin keasliannya, bukan barang palsu, bukan tiruan, bukan gadungan dan sebagainya, dan tidak mudah luntur, tahan pukulan, dan itulah yang lulus dalam ujian. Betul niat itu perbuatan hati, namun untuk membedakan di antara sekian banyak niat itu kalau sudah ada ‘ancaman bahaya,’ di situlah tampak bedanya loyang dari emas.”

Bagaimana tentang ketahanan Jam’iyah? Berikut menurut KH.Badri Mashduqi:

“Paling sedikitnya ada 4 (empat) hal yang menjadi faktor ketahanan, ketangguhan dan kelangsungan hidup Jam’iyah, kapan dan dimana saja: (1) Asas yang diperjuangkannya sudah tumbuh berakar sejak ratusan tahun yang lalu serta dipahami oleh para pengikutnya; (2) Kharisma Alim Ulama; (3) Aktivitas-aktivitasnya bermanfaat sehingga selalu dihajatkan oleh umat; dan (4) Jasa-jasa para pahlawannya yang diakui oleh semua pihak dan perlu diteruskan”.

KH.Badri Mashduqi memandang bahwa kharisma Alim Ulama tidaklah sembarang Alim Ulama. Berikut KH.Badri Mashduqi menyatakan:

“Berbicara mengenai kharisma Alim Ulama tentu saja tidak sembarang Alim Ulama, tapi Alim Ulama yang ilmunya ber-sanad dan bersilsilah kepada ilmunya Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam, yang ternyata tidak mudah dipengaruhi baik oleh harta, pangkat, wanita maupun pengaruh-pengaruh apa pun saja. Ilmu semacam inilah yang membuat seseorang konstan atau teguh pendirian, konsisten atau setia kepada janji dan amanat atau sadar kepada prinsip dan pendirian. Sehingga dengan demikian, pada dirinya tidak kebobolan, tidak mudah diperalat oleh orang lain, dan tidak mudah hanyut oleh arus aktivitas-aktivitas orang lain, malah dapat menentukan bukan ditentukan, dapat membuat dan membangun umat yang berwatak, berkepribadian dan berpendirian tegas. Hal-hal semacam inilah yang membuat seorang Alim Ulama berpengaruh dan berwibawa, punya kharisma yang mempesona. Tentu saja kharisma yang tidak disalahgunakan untuk kepentingan dirinya sendiri, sebab dia sadar bahwa dirinya hanya sebagai Khaadim min khaddaamil Jam’iyyah, bukan Syakhshiyyah. Ilmu yang semacam inilah yang dimaksud oleh hadits Nabi: “Al-‘ilmu miirotsii wa miirotsil anbiyaa’i min qobli (Ilmu itu pusaka kami dan pusaka-pusaka para Nabi sebelum kami).” Dan yang dimaksud oleh hadits ini lagi: “Inna hadza al-‘ilmu dinun fandzuru ‘amman ta’khudzuuna minhu (Bahwa ilmu ini adalah agama, maka hendaklah kalian melihat sumber yang mengalirkan ilmu itu [siapakah orangnya?]).”

“Sumber yang tepat dan jernih malah terpercayanya untuk mengalirkan agama kepada umat ini adalah ulama-ulama yang ilmunya seperti di atas tadi. Itulah sebabnya Jam’iyah kita lebih mementingkan predikat Ulama daripada predikat Islam yang mudah disalahgunakan. Sebab yang penting sumbernya, bukan mereknya, seperti halnya, yang penting bukan cuma pondoknya tapi siapa Kiainya?”

Kraksaan, 28 Juli 2018

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed