KH.Badri Mashduqi; Kiai Sang Guru Bangsa

“Negara akan hancur kalau kemakmuran tidak merata”

KH.Badri Mashduqi, Pendiri Pondok Pesantren Badridduja, Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur

KH.Badri Mashduqi, ulama Jawa Timur, kelahiran Prenduan Sumenep Madura, pendiri Pondok Pesantren Badridduja, Kraksaan, Probolinggo ini adalah sosok yang berjiwa besar agar bangsa Indonesia paham sejarah kenegaraan dan memiliki wawasan yang berdasarkan Pancasila, “Mustahil Pancasila ini muncul dalam panggung sejarah kenegaraan kita kalau tidak karena tertanamnya ajaran-ajaran Islam di persada Indonesia,” tegas KH.Badri Mashduqi.

Dalam konsepsi kenegaraan dan pemerintahan KH.Badri Mashduqi tegas menyatakan bahwa faktor esensial mendirikan negara dan pemerintahan yang stabil adalah menegakkan keadilan dan kebenaran. Berikut KH.Badri Mashduqi menyatakan: “Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsan (An-Nahl: 90), ayat ini, yang selalu dijadikan pamungkas khutbah pada setiap Jum’at, menunjukkan betapa pentingnya menegakkan keadilan dan kebenaran. Sebab ini faktor esensial untuk mendirikan negara dan pemerintahan yang stabil. Pemerintahan yang diingini oleh Islam adalah pemerintahan yang adil, mampu menegakkan persatuan dan kesatuan, di samping pula efektif menumpas anasir-anasir destruktif.”

KH.Badri Mashduqi tidak sebatas menekankan bagaimana pendidikan Islam di Indonesia harus menjadi perhatian dan digalakkan. Tapi harapan beliau, bagaimana pendidikan moral Pancasila tidak sebatas lip service. Tentang hal ini KH.Badri Mashduqi menyatakan:

“Hal yang vital itu adalah pendidikan moral yang condong mundur pada saat akhir-akhir ini. Jadi seolah-olah Pancasila hanya tinggal namanya, apalagi kalau berbicara soal agama, Pancasila saja hampir masih dibibir, lip service saja itu.”

Sebagai kiai guru bangsa, KH.Badri Mashduqi memiliki sensitivitas terhadap moralitas bangsa. Baginya, moral pada hakikatnya merupakan sendi penyangga kehidupan sebuah bangsa: “Moral pada hakikatnya merupakan sendi penyangga kehidupan sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang sudah merosot moralnya tinggal menunggu masa keruntuhannya. Itulah hukum kemasyarakatan yang selalu diwanti-wantikan oleh Al-Qur’an. Tengoklah mengapa Dinasti Abbasiyah yang sudah sekian abad berkuasa dengan mudah diluluhlantakkan oleh tentara Mongol di bawah komando Hulagu Khan. Salah satu sebabnya adalah karena akhlak umat pada kurun itu sudah mulai menurun mutunya,” tegas KH.Badri Mashduqi.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang konsekuen dan konsisten menghormati dan menegakkan hukum yang berlaku tanpa pandang bulu. Berikut ini KH.Badri Mashduqi menyatakan: “Tidak berlebihan bila saya ingin menekankan perlunya semua pihak secara konsekuen dan konsisten menghormati dan menegakkan hukum yang berlaku tanpa pandang bulu. Nabi kita yang suci sampai bersumpah, “Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya kupotong tangannya.” Sikap tegas beliau yang tanpa pandang bulu membuat diri beliau makin berwibawa di mata para sahabatnya, sehingga hukum-hukum yang ditetapkannya bisa berjalan dengan normal. Amat pantas sekali bila kita selaku umatnya mengikuti jejak dan suri tauladannya.”

#Referensi: Dokumen dan Kearsipan Syaikh Badri Institute (SBI)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed