Mengapa Kh.Badri Mashduqi Menangis Terhadap Kondisi NU?

Besarnya perhatian KH.Badri Mashduqi terhadap NU bukan alang kepalang, sehingga manakala NU “dirundung masalah” membuatnya beliau menangis seraya berupaya untuk mengatasinya. Kenapa KH.Badri Mashduqi menangis terhadap kondisi NU? Berikut KH.Badri Mashduqi menyatakan:

“Saya menangis karena mengingat kondisi NU yang amburadul, yang bertumpu pada 3 hal:
(1) Erosi akidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).
(2) Tidak normalnya hubungan NU dengan Pemerintah. Terbukti PBNU terpilih sampai sekarang belum diterima Bapak Soeharto, malah didahului P.P. Muhammadiyah yang Muktamarnya lebih akhir.
(3) Retaknya kekuatan Bani pendiri NU.”

KH.Badri Mashduqi kokoh memegang prinsip akidah Ahlussunnah Wal Jamaah dengan tetap menjaga sepenuh jiwa terhadap Qanun Asasi Aswaja Hadratussyaikh KH.Hasyim Asy’ari. Maka apabila terdapat dari sebagian pihak yang ingin mengganggunya beliau berani membelanya.

Setelah Ketua umum PBNU terpilih, KH.Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur, pada tahun 1995, kala itu Gus Dur mempunyai hubungan yang kurang diterima oleh pemerintah (Soeharto). Karena itulah KH.Badri Mashduqi berupaya untuk mengatasinya. “Saya cukup berusaha untuk mempertemukan PBNU terpilih dengan Pak Harto,” tegas KH.Badri Mashduqi. “Mengapa saya usahakan pertemuan PBNU dengan Presiden? Karena Gus Dur mengatakan, saya sudah berusaha tentang soal ini, terutama melalui mantan Menteri Kehutanan, Pak Sudjarwo. Berdasarkan itu saya berani mengupayakan. Lebih dari itu, hemat saya, kalau PBNU terpilih diterima Pak Harto, pihak-pihak yang menghendaki Muktamar Luar Biasa (MLB) dan sebagainya dengan sendirinya pasti mundur dan Insya Allah tidak akan terjadi pengajuan Gus Dur ke Pengadilan (red.),” tegas KH.Badri Mashduqi.

KH.Badri Mashduqi adalah sosok yang tulus dan tidak ada niatan karena kubu-kubuan, “Saya sejak semula nawaitunya ikhlas karena Allah, hanya ingin mencari kebenaran, tidak cari kubu-kubuan,” tegas KH.Badri Mashduqi. Sebabnya dengan upaya tulus KH.Badri Mashduqi tidak berbanding lurus dengan pemberitaan di luar atau di antara salah satu media malah terdapat yang memberitakan KH.Badri Mashduqi masuk dalam satu kubu tertentu karena itulah KH.Badri Mashduqi membantahnya bahwa beliau berupaya dengan ikhlas alias tidak karena kubu-kubuan.

Pasca muktamar NU tahun 1995, NU dililit berbagai persoalan. Melihat kondisi yang demikian, para ulama merasa prihatin. Sebagai bagian dari keluarga besar NU, mereka terdorong untuk menyelesaikannya. Salah satu ulama yang ingin menyelesaikan kemelut tersebut, selain KH.Badri Mashduqi, adalah KH.Shahib Bisri, pimpinan Pesantren Manba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Putera KH.Bisri Syansuri (bekas Rais Aam NU yang berwibawa) ini masih terhitung paman Gus Dur karena dia masih kakak dari ibu Gus Dur. Sejak didirikannya KPPNU (Koordinasi Pengurus Pusat NU) oleh Abu Hasan, KH.Shahib Bisri sudah resah. Dia khawatir keluarga besar NU terpecah jika kedua kubu tak segera didamaikan. “Saya tak ingin NU terjebak dalam situasi yang meresahkan,” kata Kiai Shahib pada Syaiful Anam dari GATRA.

Tentang retaknya kekuatan Bani pendiri NU, hal ini yang oleh KH.Badri Mashduqi dirasakannya, antara Bani pendiri NU kala itu dirasa “retak,” tentang hal ini KH.Badri Mashduqi seringkali beberapa kali ke Jombang untuk silaturrahim dalam rangka mencari solusi yang terbaik. KH.Badri Mashduqi memang terbilang ulama yang dekat dengan keluarga Gus Dur. Karena itu, penulis teringat sewaktu menghadiri acara di Pesantren Genggong, ketika Gus Dur mengisi ceramah—ketika itu KH.Badri Mashduqi telah wafat— dalam sebuah acara di Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo, menyatakan bahwa ulama yang beda kepemimpinannya khususnya di Jawa Timur hanya satu, yaitu KH.Badri Mashduqi. Kala itu Gus Dur menyatakan di atas podium, “Saya menganggap orang tua kepada beliau (KH.Badri Mashduqi),” tegas Gus Dur.

#Referensi: Dokumen dan Kearsipan Syaikh Badri Institute (SBI)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed