Dari Pembukaan Muktamar Sastra, Hatiku Merasa, Cinta Dan Bahagia

Sehari sebelum pelaksanaan acara Muktamar Sastra 2018, sebuah perhelatan kesusasteraan ruang bertemu ratusan tokoh dan penggiat sastra dari penjuru nusantara, di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Situbondo, sebelumnya saya menghadap pengasuh Pesantren Badridduja (KH.Tauhidullah Badri). Saya matur kepada beliau tentang naskah Qasidah Nahdliyah karya KH.Badri Mashduqi. Saya perlihatkan kepada beliau naskah tersebut. Pesan beliau bahwa naskah tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut dan jangan disebar terlebih dulu. Tujuannya agar keberadaan naskah tersebut diketahui betul-betul karya beliau yang asli dan sesungguhnya serta tidak segampangnya diaku-akui oleh orang lain. Intinya, kebenaran naskah tersebut betul-betul naskah yang sesungguhnya dan milik KH.Badri Mashduqi.

Selain itu, saya juga matur kepada Kiai Tauhid, bahwa KH.Badri Mashduqi juga mempunyai naskah Shalawat Rihlatul Haj. Tentang kedua naskah tersebut (Qasidah Nahdliyah dan Shalawat Rihlatul Haj karya KH.Badri Mashduqi), kedua naskah ini perlu ditindaklanjuti atau ditelusuri lebih lanjut. Selanjutnya akan saya agendakan khusus menindaklanjutinya bersama tim penelusuran naskah KH.Badri Mashduqi, yang nantinya bersama pengurus Syaikh Badri Institute (SBI) tim ini akan dibentuk. Naskah syair yang lain karya KH.Badri Mashduqi yaitu, Obat Ate, Sungguh Sayang tidak Sembahyang, dan ada lagi karya syair beliau yang lainnya yang sampai saat ini saya simpan.

Memang Kiai Badri sendiri adalah keturunan Nyai Fatmah, pengarang dan pelantun Syiiran Madura, yang kemudian saya tulis dan sudah beredar buku biografinya dengan judul, Ny.Hj.Fatmah Mawardi Keteladanan dan Karya Syiirannya.

Keesokan harinya saya berangkat ke acara Muktamar Sastra di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Sungguh bahagia dan merasa gembira mengikuti acara pembukaan Muktamar Sastra di pesantren bersejarah ini, Muktamar Sastra yang pertama kali diadakan. Di acara ini, saya bisa menyaksikan langsung, ada sambutan KHR.Achmad Azaim Ibrahimy, “24 jam kehidupan di pesantren ini (Pesantren Salafiyah Syafi’iyah) adalah bersastra,” tegas beliau dalam sambutannya. Ada sambutan Menteri Agama, Bapak Lukman Hakim Syaifuddin, “Saya menjamin Muktamar Sastra ini tetap berlangsung,” tegas Pak Menteri yang sekaligus membuka acara ini. “Mari jadikan Muktamar Sastra ini sebagai titik tolak untuk memajukan sastra pesantren!,” ajak Pak Menteri yang saya tangkap dari penyampaiannya itu.

Selanjutnya pidato kebudayaan dari KH.A.Mustofa Bisri. “Di dalam sastra itu tidak hanya olah pikir tapi olah rasa,” tegasnya. “Puisi adalah makanan orang pesantren,” tegas beliau. Kiai Mustofa juga menyampaikan bagaimana Al-Qur’an yang kita baca adalah mengandung sastra. Tentang hal ini jadinya saya teringat naskah (tulis tangan) KH.Badri Mashduqi yang berada di dalam buku agenda pribadinya. KH.Badri Mashduqi menulis begini tentang Al-Qur’an:

“Al-Qur’an dapat menimbulkan tiga hal sekaligus, yaitu seni, ilmu dan agama. Dengan seni hidup jadi halus dan syahdu; dengan ilmu hidup menjadi maju dan enak; dan dengan agama hidup menjadi bermakna dan bahagia. Tiga hal inilah yang harus terkumpul dalam hidup dan kehidupan manusia.”

“Seni tanpa ilmu akan lunglai, seni tanpa agama tidak mempunyai arah, sedangkan ilmu tanpa seni akan merupakan kekasaran, ilmu pengetahuan tanpa agama akan merupakan kebiadaban.”

“Demikian juga agama tanpa seni akan kering, dan agama tanpa ilmu pengetahuan akan lumpuh. Tetapi dengan ketiga-tiganya, yaitu seni, ilmu dan agama akan sempurnalah hidup dan kehidupan kita.”

Melalui acara Muktamar Sastra ini, saya pun hanyut dalam doa yang disampaikan KH.D.Zawawi Imron. Sungguh saya sempat meneteskan air mata dalam kesempatan ini, doanya Kiai Zawawi diawali dengan doa Arab dan diteruskan dengan bahasa Indonesia. Doa Kiai Zawawi membuat hidup ini terasa, hubungan batin kepada Sang Kuasa penuh cinta, penuh kedamaian dan kebahagiaan. Air mataku menetes kala doa dibacakannya karena hatiku tak kuasa bagaimana bila saatnya menghadap Sang Kuasa alam semesta.

Selanjutnya dilanjutkan parade puisi, puisi yang dibaca Kiai Azaim menggugah rasa, puisinya Kiai Zawawi penuh cinta, puisi Kiai Mustofa Bisri membuat hatiku bahagia.

Selesai parade puisi, saya inginnya bersalaman dan menyerahkan buku kepada KH.A.Mustofa Bisri, yakni buku yang saya tulis dengan judul, Kiai Bahtsul Masail Kiprah dan Keteladanan KH.Badri Mashduqi. Berhubung amat ramai dan penuhnya yang mengelilingi beliau, akhirnya buku tersebut saya serahkan melalu Mas Ulil Abshar Abdalla. “Mas Ulil, saya santrinya Kiai Badri dan mohon buku ini dihaturkan ke Kiai Mustofa Bisri,” pesan saya kepada Mas Ulil. “Subhanallah, saya nulis tentang beliau (Kiai Badri Mashduqi) dan Cak Nur di facebook. Terima kasih,” jawabnya singkat. “Baik, Mas, mohon dihaturkan ke Kiai Mustofa Bisri,” balas saya. Sekian…

Selamat dan Sukses Muktamar Sastra 2018

Sukorejo Situbondo, 19 Desember 2018

Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed