Besarnya Perhatian Kiai Badri terhadap Santrinya dalam Membaca Al-Qur’an dengan Tajwid

Masa awal saya jadi guru sekaligus pembina Osis di MA Badridduja (1999/2000), lembaga ini mengadakan acara dan yang diundang (yang mengisi acara) adalah KH.Badri Mashduqi. Acaranya di tempatkan di kelas 1. Pak Abdul Aziz sebagai pimpinan lembaga ini dan Qori-‘nya adalah saudara Abdussalam dari Sumenep (alumni MA Badridduja).

Saya ingat betul sewaktu Abdussalam sedang membaca Al-Qur’an (bil-ghina’), seni suara dia bagi saya amat menyentuh jiwa. Suara dia memang sangat bagus, indah, dan dia terbiasa baca Tarhiem di Masjid Darussalam, Pesantren Badridduja, Kraksaan.

Nah, pada saat Abdussalam membaca bacaan “minha,” yakni tepatnya bacaan Idzhar, sepontan Kiai Badri menegur dia, “Minha,” tegas Kiai. Saat itu perasaan saya bicara, bagaimana cara Abdussalam mau berhenti bacaannya dalam keadaan (sedang) Qori’. Tapi Abdussalam waktu itu tetap meneruskan bacaannya sampai selesai se-ayat. Sebab kalau berhenti seketika itu, rasa-rasanya keindahan bacaannya terasa kurang nikmat didengarnya.

Jadi, KH.Badri Mashduqi amat ketat terhadap bacaan Tajwid. Beliau dipastikan menegurnya seketika apabila beliau kedapatan mendengar santrinya membaca Al-Qur’an—dimana pun tempat baik di Pesantren Badridduja maupun seperti membaca surat Yasin pada acara Tahlilan di luar Pesantren—tidak menggunakan tajwid, baik terhadap santri yang masih aktif belajar maupun santri yang sudah berstatus guru atau alumni, maka Almarhum Almaghfurlah KH.Badri Mashduqi pasti menegur santri tersebut. Begitulah besarnya perhatian Kiai Badri terhadap santri dalam bacaan Al-Qur’an dengan ber-tajwid.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed