Kiai Badri dan “Ubun-ubun Santri”

Ada seorang haddamah Pondok Pesantren Badridduja, Atmawati, Desa Randutatah Paiton. Atmawati tidak mengaji seperti santri-santri yang lain karena memang tugasnya berada di sana untuk membantu Pondok Pesantren Badridduja yakni mengurusi tugas-tugas di dapur dalam pelayanan makannya santri atau Dekosan Santri. Selama empat tahun Atmawati membantu pesantren sampai pulang dari pesantren ini dan kemudian berkeluarga, alhamdulillah sekarang, dia dikaruniai seorang putri yang amat cantik dan sudah bermenantu serta seorang cucu.

Kisahnya, sebelum putrinya Atmawati lulus SD, dia cabis ke Nyai Maryamah di Pesantren Badridduja. Kala itu Nyai Maryamah sedang tidak di Pesantren. Sekedar ingin mengenang masa dulunya, Atmawati masuk ke dapur bersama seorang putrinya—tempat dia membantu nanak sekian tahun sebelumnya—,dia hanya ingin melihat ruang makan yang biasa ditempati Kiai, lantas KH.BADRI MASHDUQI datang dan berpesan sambil memegang UBUN-UBUN seorang putrinya Atmawati:

“Pamondhuq dinna’ [Badridduja] gebey gantenna reyya yeh! (Mondokkanlah di sini [Badridduja] buat gantinya ini ya!),” pesan KH.Badri Mashduqi seraya beliau memegang ubun-ubun seorang putri Atmawati.

Istilah ubun-ubun tentu tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Ubun-ubun terletak di kepala, biasanya berjumlah satu, tapi ada juga yang dua meskipun jarang.

Menurut para pakar, di antaranya, adalah Prof. Keith L More yang menegaskan bahwa ubun-ubun merupakan penanggungjawab atas pertimbangan-pertimbangan tertinggi dan pengarah perilaku manusia. Sementara organ tubuh hanyalah prajurit yang melaksanakan keputusan-keputusan yang diambil di ubun-ubun.

Tugas bagian otak yang berada di ubun-ubun yaitu mengarahkan bagaimana seseorang berperilaku. Apabila seseorang telah berbohong atau berbuat salah, maka bagian otak yang mengambil keputusan ini adalah bagian otak di ubun-ubun.

Karena itulah, ternyata, ubun-ubun yang dipegang KH.Badri Mashduqi berpengaruh besar, beliau ingin agar Atmawati punya seorang putri yang menjadi penerus ibunya alias mondok di Pesantren Badridduja. Putri Atmawati selepas lulus SDN Randutatah Paiton, kemudian meneruskan ke Pesantren Badridduja. Sekarang Atmawati mempunyai seorang cucu. Menantu Atmawati juga alumni Pondok Pesantren Badridduja dan sampai sekarang menantu tersebut berprofesi sebagai guru di MTs Badridduja yaitu, Ustadz Syukran Sabar, M.Pd. Barokallah….

#Wawancara bersama Atmawati, 25 Januari 2019, di Randutatah Paiton Probolinggo.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed