NYAI FATMAH MAWARDI SOSOK IBU SANG INSPIRATOR

Kasih sayang ibu sepanjang masa, ungkapan yang sering kita dengar. Ungkapan ini bukannya tanpa sebab karena memang pada kenyataannya seorang ibu selalu menyayangi kita sampai kapan pun. Jasa seorang ibu tak terhitung banyaknya, sejak ia melahirkan ke dunia, mengasuh, membesarkan penuh kebahagiaan dan penuh harapan sampai akhir hayatnya.

Adalah Nyai Fatmah Mawardi, seorang ibu dan ulama perempuan kelahiran Prenduan Sumenep, dikisahkan oleh KH.Mohammad Tijani Djauhari (pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien, Prenduan, Sumenep), “Dengan segala situasi dan kondisi, terutama ketika putranya (KH.Badri Mashduqi, pengasuh Pondok Pesantren Badridduja, Kraksaan, Probolinggo) dipenjara di Jember pada tahun 1977, karena aktivitasnya dalam politik praktis dengan keterlibatannya di partai-partai NU, dan dengan keberaniannya dalam menyampaikan materi dakwahnya yang banyak mengkritik pemerintah, sebagai seorang ibu, Nyai Fatmah, menjadi pendorong, penyemangat yang amat kuat sehingga pada akhirnya, seorang putranya itu bisa dikeluarkan dari penjara dengan tanpa mempunyai kesalahan apa-apa.”

Tak sebatas kepada seorang putranya yang bernama Badri Mashduqi, terhadap para cucunya pun, begitu besar perhatian dan kasih sayangnya, “Terhadap para cucunya, hampir semua cucu beliau bisa baca Al-Qur’an dan baca tulis latin karena ketelatenan Nyai Fatmah,” tambah KH.Tijani yang masih famili Nyai Fatmah sendiri.

Padahal, Nyai Fatmah ditinggal sang suami—Kiai Mashduqi, suami Nyai Fatmah, yang umum dikenal sebagai waliyullah Rijalul Ghaib messat (baca, bahasa Madura) atau “menghilang,” kala usia putranya, Badri Mashduqi, umur dua tahunan, dan sang suami (Kiai Mashduqi) menghilang untuk selamanya—maka, Nyai Fatmah bergerak sendiri menanggung biaya hidup untuk dirinya, untuk seorang putranya (Badri Mashduqi) bahkan Nyai Fatmah masih mampu untuk me- ladeni para cucunya sendiri.

Semangat juang dan keistikomahan seorang Nyai Fatmah diwujudkan pula dengan rutinitas Ratibul Qur’an, khatam Al-Qur’an dalam seminggu secara terjadwal. Rutinitas beliau inilah juga (diharapkan) berpengaruh besar terhadap sukses dan keberhasilan perjuangan seorang putra dan para cucunya. Seperti yang tertulis dalam lembaran tulisan tangan Nyai Fatmah, “Lamon arotib ekasalamet dunynya aherat, ekamolje ana’ poto (Jika melaksanakan Ratib/mengkhatamkan Al-Qur’an untuk [agar mendapat] kemuliaan anak keturunan).” Inilah contoh seorang ibu, inspirator buat kita semua. Semoga kita selalu ingat jasa ibu dan berupaya selalu baik serta hormat kepadanya sampai kapan pun. Aamiin.

 

Publisher Abdullah Afyudi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed