Sejarah sebelum NU Cabang Kraksaan Memiliki Kantor

Pada masa kepemimpinan Rais Syuriyah NU Cabang Kraksaan dipimpin KH.Badri Mashduqi tidak serta merta memiliki kantor sendiri, seperti kantor yang sekarang berada di Kelurahan Sidomukti. Sementara, kantor yang ditempati sebelumnya—kantor sementara—berada di Kraksaan Wetan, timur Pondok Pesantren Badridduja. Bagaimana untuk mengetahui sejarah kantor NU Cabang Kraksaan sebelum memiliki kantor yang permanen seperti sekarang ini? Berikut hasil penelusuran penulis:

Sebelum memiliki kantor sendiri, urusan administrasi NU Cabang Kraksaan berada di Pondok Pesantren Badridduja. Beliau menjabat sebagai Rais NU Cabang Kraksaan pada 1975 sampai 1984. Sebelum beliau mengakhiri jabatannya, NU Cabang Kraksaan sudah memiliki gedung kantor sendiri, seperti yang kita lihat—beberapa kali dilakukan rehab—,patut kita syukuri. Sebelum Kiai Badri menjabat sebagai Rais, beliau menjabat Ketua Tanfidziyah dalam satu periode, sebagai Rais-nya, adalah KH.Zaini Mun’im.

Kemudian, kantor NU Cabang Kraksaan berada di sebelah timur Pondok Pesantren Badridduja, Kraksaan, yang sebelumnya adalah sebuah rumah tua tak berpenghuni. Rumah ini, yang pernah ditempati sebagai kantor NU Kraksaan adalah milik keluarga H.Abdul Amin, Kraksaan Wetan. Menurut H.Abdul Amin, sebelum rumah itu ditempati, seringkali KH.Badri Mashduqi menyampaikan bahwa rumah miliknya itu mau dijadikan sebagai kantor NU Cabang Kraksaan. Hari ini, Kamis, 17 Januari 2019, saya menemui langsung Bapak H.Abdul Amin di rumahnya. Berikut penyampaian H.Abdul Amin:

“KH.Badri Mashduqi sering nyampayagi ka kaule, kadeng neng e motor bila kaule abareng ka pengajian. Compo’ ka’issa’ egunaagina kantor NU, ca’epon Keae Badri. Kaule ajawab, ta’ aponapa. Kaule ta’ menyewa’a karna NU masa geneka ta’ ngagungin panapa. Compo’ se etempate kantor NU, compo’ ka’issa’ karna oreng towwa kaule. Keae Badri, gik ta’ ngagungin motor, motor kaule se eangguy ka pengajian, sopirre anyama Sukar, Asembakor. Bile pengajian semma,’ dokar kaule se eangguy karna kaule jugen ngagungin dokar (KH.Badri Mashduqi sering menyampaikan kepada saya, terkadang menyampaikan di mobil sewaktu ke pengajian. Rumahnya mau digunakan sebagai kantor NU, kata Kiai Badri. Saya menjawab, tidak apa-apa. Saya tidak menyewakan karena NU masa itu tidak memiliki apa-apa. Rumah yang ditempati kantor NU, rumah itu karena orang tua saya. Kiai Badri sebelum memiliki mobil sendiri, mobil saya yang dipakai, sopirnya bernama Sukar, Asembakor. Kapan pengajiannya dekat, dokar saya yang sering dipakai karena saya juga punya dokar),” begitulah saksi sejarah (H.Abdul Amin) menegaskannya.

KH.Badri Mashduqi, seperti diakui oleh H.Abdul Amin, adalah sahabat perjuangannya, terutama dalam pengajian-pengajian, H.Abdul Amin bersama KH.Badri Mashduqi. “Bila pat-rapat, ongge gunung toron gunung, Keae Badri abareng Ji Amien (Sewaktu ada rapat, naik gunung, turun gunung, Kiai Badri bersama H.Amin),” tambah istri H.Abdul Amin, mendampinginya.

Sebelum penulis menelusuri kepada Bapak H.Abdul Amin, jauh sebelumnya saya sendiri sudah mendapat kesaksian dari mantan kepala Pondok Pesantren Badridduja, KH.R.Amiruddin Jazuli. Menurut Kiai Amir, sebelum rumah yang ditempatinya sebagai kantor NU Kraksaan (rumah H.Abdul Amin), Kiai Amir diperintah oleh Kiai Badri untuk membacakan “Doa Nurbuat,” sebabnya, rumah itu sebelumnya memang tak berpenghuni, “Karena rumah itu sebelumnya banyak jin-nya,” tegas Kiai Amir. Setelah jinnya diusir oleh Kiai Amir dengan bacaan Doa Nurbuat, baru kemudian ditempatinya. Doa Nurbuat, tegas Kiai Amir, adalah Doa Nurbuat ala Kiai Badri Mashduqi, “Saya sebelumnya menggunakan Doa Nurbuat tanpa memberitahukan Doa Nurbuat yang saya baca. Ternyata jinnya tambah ngamuk. Setelah saya laporkan dan memperlihatkan ke Kiai Badri tentang Doa Nurbuat yang telah saya bacakan, saya ditegurnya karena Doa Nurbuat yang saya baca tersebut tidak cocok, dari susunannya tidak seperti Doa Nurbuat ala Kiai Badri. Baru kemudian Kiai Badri memberikan susunan Doa Nurbuat, susunan beliau sendiri. Setelah saya menggunakan Doa Nurbuat ala Kiai Badri, sekitar 3 harian jinnya sudah tidak mengganggu lagi. Kalau sebelumnya, saya baca sampai empat puluh hari tapi jinnya tetap ngamuk-ngamuk. Jadi saya pakai Doa Nurbuat ala Kiai Badri,” kisah Kiai Amir.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed