Filosofi “Gentong Dan Canteng” Dan Filosofi “Ceret Dan Gelas”

Dhawuh-dhawuh KH.Badri Mashduqi

“TIRULAH FILOSOFI GENTONG DAN CANTENG! KALAU GENTONG, CANTENGNYA YANG IKUT GENTONG”

Dhawuh KH.Badri Mashduqi, jika ingin jadi seorang pemimpin yang diteladani—seperti seorang Kiai—tirulah filosofi gentong. Arti kata “gentong” di KBBI (kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah tempat air yang berbentuk seperti tempayan besar biasanya terbuat dari tanah liat.

Jika gentong, maka yang ikut adalah canteng (bahasa Madura), atau dalam bahasa Indonesia adalah gayung, tempurung dan sebagainya yang diberi atau bertangkai (gagang atau pegangan) untuk mengambil air. Tapi, tegas KH.Badri Mashduqi, itu terbatas. Karena semua tidak mungkin jadi kiai. Kemudian jika jadi kiai, jadilah teladan yang bisa diikuti atau bisa dicontoh. Karena jadi kiai adalah terbatas, maka jadilah rakyat biasa atau kalangan umum. Jika ingin jadi kalangan umum, berikut dhawuh KH.Badri Mashduqi:

“JADILAH FILOSOFI CERET! KALAU CERET, CERETLAH YANG DATANG KE GELAS”

Filosofi ceret yang dimaksudkan adalah sebagai kalangan umum. Menjadi kalangan umum, janganlah menunggunya, tapi harus berupaya untuk terjun langsung, bersosialisasi dengan sesama atau masyarakat umum. Dengan demikian, KH.Badri Mashduqi menegaskan: “Perbanyaklah pendekatan kepada masyarakat!”

#Wawancara bersama Ust.Taufiq Masykuri, Sumenep (mantan kepala Madrasah Asas lil Ulumil Islamiyah Badridduja Kraksaan-Probolinggo)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed