Sisi Kedermawanan KH.Badri Mashduqi

Dalam sebuah acara “Majelis Sholawat Fatih Syaikh Badri Mashduqi” yang merupakan rintisan pengurus Himpunan Alumni Santri Badridduja (HASB) Situbondo, KH.Mohammad Jaiz Badri, yang mengisi acara ini pada 23 Desember 2018, menyarankan kepada saya, “Ustadz Saifullah perlu menulis buku Sisi Kedermawanan Syaikh Badri Mashduqi,” tegas Kiai Jaiz. “Sebab kalau kisah kealiman beliau kan sudah banyak,” tambah Kiai Jaiz. Saya yang hadir dalam acara ini bersama H.Syamsuri Damanhuri (Ketua HASB Pusat) dan Ustadz Anshori (pengurus HASB Pusat) menyaksikan langsung ceramah Kiai Jaiz, “Kiai Badri dermawan, bagaimana santrinya?,” tegas Kiai Jaiz seraya beliau memotivasi kepada segenap alumni Badridduja.

Kala Kiai Jaiz menyampaikan sisi kedermawanan KH.Badri Mashduqi, mengisahkan bagaimana mengagumi sosok Kiai Badri. Beliau amatlah dermawan. Menurut Kiai Jaiz, tiap tahun Kiai Badri selalu membawakan sarung kepada salah seorang Kiai baik yang sudah Almarhumin maupun yang masih hidup. “Jarang sekali seorang Kiai memberikan sarung kepada sesama kiainya,” kata Kiai Jaiz disela-sela ceramahnya.

Dari kisah Kiai Jaiz tersebut, saya pun banyak mendapatkan kisah-kisah tentang Kiai Badri dari sisi kedermawanannya. Ustadz Ahmad Shabri, mantan kepala MTs Badridduja dan menjadi Sekretaris NU Cabang Kraksaan pada saat KH.Badri Mashduqi sebagai Rais Syuriyah NU Cabang Kraksaan, berkisah:

Kiai Badri sering ngasi rokok pada saya, kadang beliau menyuruh santri yang mengantarkan ke rumah saya (Sidopekso, Kraksaan) atau saya dipanggil sendiri oleh beliau pada siang hari. Bahkan Kiai Badri pernah mengantarkan sendiri, rokok satu pres dari beliau, bersamaan dengan adanya tugas NU. Sewaktu memberi rokok, beliau tidak banyak dawuh, “Neko’ (Ini),” kata Kiai Badri sambil memberikan rokok. Atau kadang dengan dawuh begini, “Aroko’ nah ta’ nape, le segger (Merokoklah tidak kenapa, biar segar!),” dawuh Kiai Badri.

KH.Badri Mashduqi dikenal dermawan sehingga jarang sekali saya minta uang ke Bendahara NU Cabang Kraksaan. Terutama untuk keperluan surat-surat Bahtsul Masail, sampai surat-surat beredar ke para peserta, semua dana tersebut dari dana pribadi beliau sendiri. Beliau memberi dana cukup banyak dan tanpa perhitungan.

Begitulah kesaksian Ustadz Ahmad Shabri. Dari sejumlah santri-santri Kiai Badri tentunya juga banyak kisah inspiratif tentang begitu dermawannya Kiai Badri. Cerita Ustadz Zainuddin (Pamekasan), berikut ini:

Saya pengalaman dikasi sorban dan sarung oleh Syaikhona. Sorban warna merah dan sarung warna cokelat. Saya dikasi pada bulan Ramadlan pukul 12 malam. Beliau menyuruh haddam memangil ke kamar saya. Akhirnya pada malam itu juga saya menghadap beliau:
“Assalamu’alaikum,” ucap saya.

“Wa’alaikumsalam. Kamu, Zay?” tanya Kiai. Waktu itu Kiai sedang memegang Al-Qur’an. Jadinya perasaan saya kala itu, Kiai mengaji Al-Qur’an malam-malam sementara saya tidur.

“Saya, Kiai,” jawab saya.

“Ini pakai kamu (sorban dan sarung),” dawuh Kiai Badri sekalian menyerahkan sorban dan sarung.

Tidak hanya itu. Saya pernah dibelikan sepeda jengki bertiga. Jadi waktu itu 3 orang yang dibelikan oleh beliau, saya, Ust.Muhammad (Pamekasan) dan Ust.Munawar (sekarang di Paiton). Sepeda itu dibelikan di Surabaya. Saya bertiga membawa sepeda tersebut dari Kutisari, Surabaya. Jadi bertiga pancalan sepeda dari Kutisari Surabaya ke Probolinggo. Begitu bangganya, apalagi masa itu di pondok tidak ada yang punya sepeda.

Beliau juga beberapa kali memberi uang kepada saya. Kalau beliau memberi uang tanpa terlebih dulu dihitung, ecarakem, langsung dikasikan. Jadinya santri-santri yang dikasi uang oleh beliau ketika bersamaan dikasi tidak sama jumlahnya. Masa dulu, kadang sampai 70 ribu bahkan lebih, sampai 100 ribu.

Kiai Badri sungguh amat dermawan. Dulu semua Ustadz dan pengurus dibelikan kitab Bukhari Muslim. Banyak sekali. Di antara yang menerima kitab ini, ya saya, Ust.Munawar, Ust.Muhammad, Ust.Maskuri, Ust.Assaluddin, Ust.Syahrawi (Alm.), Ust.Irsyad, Ust.Supandi. Dawuh beliau, “Asal mengaji sampai khatam.” Kira-kira masa itu tahun 90-an. Kitab ini langsung diterima atau penerimanya menghadap sendiri kepada beliau di dhalem.

Kiai Badri juga pernah memberi Al-Qur’an terjemahan. “Ini pengurus yang tidak pulang,” dawuh Kiai. Beliau memberikan secara cuma-cuma menjelang puasa. Pernah juga Syaikhona memberikan kitab Tarikhul Hawadits. Kitab ini diaji ba’da shalat Jum’at. Usai melaksanakan shalat Jum’at beliau ke dhalem-nya terlebih dulu dan santri mengambil kitab di kamarnya. Baru kemudian mengaji di Masjid.

Begitulah sebagian kisah sisi kedermawanannya Almarhum Almaghfurlahu KH.Badri Mashduqi. Tentunya masih banyak kisah-kisah inspiratif tentang Syaikhona Badri Mashduqi.
Semoga bermanfaat.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed