Aksi 22 Mei terjadi, Perlunya Belajar dari Metode KH.Badri Mashduqi dalam Menyikapi Masalah Kebangsaan

[10.59, 30/5/2019] Saiful BD: Aksi 22 Mei terjadi, yakni setelah pesta demokrasi tahun 2019 ini, kerusuhan meledak di Jakarta. Terjadinya kerusuhan di kawasan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta, pada Rabu (22/5/2019) pagi. Pihak keamanan, terutama polisi dan TNI yang bertugas dalam menjaga kondisi keamanan tentu amat mengkhawatirkan. Mengetahui kejadian ini, tentu juga para ulama dan segenap komponen bangsa ikut cemas seraya berharap agar kejadian atau peristiwa tahun 1998 tidak terulang kembali. Karena itu, penulis penting merilis tentang bagaimana metode KH.Badri Mashduqi dalam menyikapi masalah kebangsaan yang pernah terjadi di bumi nusantara ini sehingga pembelajaran antisipatif dan preventif dapat menjadi sebuah pelajaran berhaga bagi segenap bangsa. Seperti KH.Badri Mashduqi menyatakan, “Jangan lupa bahwa umat Islam mayoritas, diharapkan jangan terulang trauma seperti dalam peristiwa Tanjung Priok, Timtim, Lampung, Aceh, dan sebagainya.” Jadi, kita tidak ingin disintegrasi bangsa terulang kembali. “Dalam menghadapi dan menanggulangi gejala-gejala yang tidak baik hendaknya harus berpijak pada kaidah agama: al-wiqoyatu khairun min al-‘ilaji, tindakan preventif jauh lebih baik daripada tindakan kuratif dan represif. Kalau ketahuan ada api, dalam memadamkannya jangan tunggu timbulnya kebakaran. Daripada berobat lebih baik menjaga diri jangan kejangkitan penyakit,” tegas KH.Badri Mashduqi (KH.Badri Mashduqi, 1996).

Bagaimana pelajaran berharga, metode KH.Badri Mashduqi dalam menyikapi masalah kebangsaan?

Pertama, pembentukan forum komunikasi antarulama. Pelajaran berharga dari seorang ulama atau kiai yang bernama KH.Badri Mashduqi, dalam rangka antisipasi, meredam gejolak masalah disintegrasi bangsa, ketika terjadi peristiwa di kawasan Tandes, Surabaya (8/7/1996), semisal pemogokan buruh, maraknya demo mahasiswa, menggejalanya pengguna ekstasi, prostitusi dan pemerkosaan dan lain-lain. Maka langkah cepat dan strategis yang ditempuh oleh KH.Badri Mashduqi adalah mendirikan forum semacam LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), yang kala itu diberi nama, FOKUS (Forum Komunikasi Ulama Sunni). Dalam forum ini, KH.Badri Mashduqi sebagai pembinanya dan sebagai ketua pelaksananya adalah KH.Hasib Wahab. Keberadaan forum ini patut diapresiasi kala itu oleh semua kalangan sehingga persoalan kebangsaan pada saat itu dapat diantisipasi dengan baik dan gejolak massa pun dapat dengan mudah diredamnya. Di antara 15 kiai dari berbagai daerah di Jawa Timur berkumpul di Surabaya: KH.Badri Mashduqi (Probolinggo), KH.Bashori Alwi (Malang), KH.Zaki Ubaid (Pasuruan), KH.Mukhtar Ghozali, KH.Mahfur Abdullah, KH.Hisyam, KH.Marzuki, KH.Hasib Wahab (Jombang), KH.Taufiq Kholil (Jombang), KH.Arifin Khon (Jombang), KH.Syafi’i Sulaiman (Kediri). Dalam pertemuan itu, lima belas kiai tersebut sepakat membuat organisasi semacam LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) untuk mengakomodasi segala macam pikiran dan gerak perjuangan yang kala itu dirasa belum terwadahi. KH.Badri Mashduqi dan KH.Hasib Wahab masuk tim inti dibantu 4 orang anggota: KH.Bashori Alwi, KH.Zaki Ubaid, KH.Taufik Kholil dan KH.Syafi’i Sulaiman. Dalam susunan pengurus FOKUS, KH.Badri Mashduqi menjadi pembina utama, sedang KH.Hasib Wahab dipercaya sebagai ketua. Langkah selanjutnya, di Shangri La Hotel Surabaya, Rabu, akhir Juli (31/7/1996) dilaksanakan pertemuan silaturrahim yang diikuti 143 kiai dan dihadiri unsur Muspida lengkap: Gubernur Basofi Sudirman, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Imam Utomo, Kapolda Jatim Mayjen Pol. Drs. Sumarsono, Pangarmatim Laksda Bambang Suryanto dan ketua DPRD Tri Maryono.

Kedua, membentuk kegiatan lintas agama. KH.Badri Mashduqi walau dikenal sebagai seorang ulama yang bergelut dalam dunia pendidikan pesantren (Pengasuh Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo), akan tetapi dalam menyikapi masalah kebangsaan beliau amat toleran dan menghargai kalangan yang beda agama. Bagi beliau, masalah kebangsaan bukanlah hanya terbatas untuk umat Islam semata, tapi untuk dan menyangkut komponen bangsa secara keseluruhan. Karena itulah, sebagai bentuk kepedulian (pada tahun 1998), KH.Badri Mashduqi menggagas berdirinya “Pengajian Rutin Pembauran.” Bersama tokoh Katolik atau pendeta termasuk Kristen dan lain sebagainya, di Kraksaan Probolinggo, KH.Badri Mashduqi membentuk kepanitiaan terlebih dulu dan selanjutnya dengan menyelenggarakan acara yang diberi tema, “Dengan Semangat Pembauran, Kita Ciptakan Persatuan dan Kesatuan dalam Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara.” Acara ini berlangsung pada 3 Agustus 1998, di Alun-alun Kraksaan Probolinggo. Maksud dan tujuan diadakan pengajian tersebut adalah untuk memberi pembinaan mental spritual yang bernuansa kebangsaan. Sehingga sampai sekarang, khususnya di Kota Kraksaan, kondisi keberagamaan tetap kondusif dan tidak terdapat gejolak apa pun. Di jantung kota ini (Kraksaan), amat banyak warga dari kalangan Cina, beragama Katolik dan Kristen. Berdiri juga di daerah Kraksaan ini, seperti gereja dan sekolah Katolik, berdekatan dengan pesantren, seperti Pondok Pesantren Darullughah wal Karomah Sidomukti dibawah asuhan KH.Baidlowi dan Pesantren Badridduja Kraksaan Wetan dibawah asuhan KH.Badri Mashduqi.

Dalam menjalin hubungan kebangsaan, tidak kalah pentingnya juga, peran istri KH.Badri Mashduqi, Nyai Maryamah Anshori, selalu menjalin kebersamaan dengan kalangan Cina, khususnya di toko-toko Cina Kraksaan dan Probolinggo, menjelang hari raya Idul Fitri, Nyai Maryamah dibantu oleh para santri Pondok Pesantren Badridduja untuk mengantarkan, berupa bingkisan berharga buat mereka. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antarumat Islam antaragama lainnya, khususnya di daerah Kraksaan dan Probolinggo, dapat terjalin dengan rukun, kompak dan bersatu.

Ketiga, pertemuan dua arah antarkiai dengan kepala negara (pemerintah RI). Jika terjadi gejolak massa yang diarahkan kepada pemerintah, maka cara yang ditempuh oleh KH.Badri Mashduqi melalui pendekatan langsung kepada Presiden. Seperti terjadinya tuntutan dibubarkannya SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) yang menuai banyak protes dari para kiai dan umat karena dianggap judi. “Saya heran, saat umara ingin berbicara pembangunan secara fisik, kok berlagak seperti ulama. Ini kan salah alamat. Seperti masalah SDSB yang banyak ditentang oleh kiai,” tegas KH.Badri Mashduqi.

KH.Badri Mashduqi terus mendesak pemerintah untuk segera mencabut izin dan membubarkan SDSB itu. Desakan itu tidak hanya melalui pejabat dan menteri seperti Menristek Habibie yang juga kala itu sebagai ketua ICMI, tetapi juga diungkapkan langsung kepada Presiden Soeharto. Presiden Soeharto pun menjawab usulan KH.Badri Mashduqi dengan mengatakan, “Ya itu betul. Ulama memang harus amar ma’ruf nahi munkar. Sudah seharusnya begitu. Misalnya kalau ada restoran babi, di situ banyak umat Islam, ya harus dilarang. Tapi say‚Ķ
[11.00, 30/5/2019] Saiful BD: Demi Keselamatan Bangsa, KH.Badri Mashduqi Tak Ingin Perubahan Revolusioner

KH.Badri Mashduqi adalah seorang ulama Probolinggo Jawa Timur, yang mencintai rakyat dengan sepenuh jiwa. Selama hidupnya, perjuangan demi agama, bangsa dan negara (Indonesia), beliau rela berjuang walau nyawa sebagai taruhannya. Terbukti, pada tahun 1977, beliau dipenjara demi memperjuangan nilai-nilai Pancasila. Baginya, Pancasila tak sekedar slogan tapi harus diperjuangkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sampai kapanpun. Pada peristiwa Gestapu PKI, KH.Badri Mashduqi menjadi penggerak utama, terlibat aktif, khususnya di wilayah Kraksaan Probolinggo. “Pada peristiwa 1965, alhamdulillah kami terlibat aktif dalam penumpasan Gestapu PKI di wilayah kami. Maka kalau ada yang menyayangkan terjadinya aksi-aksi pengganyangan terhadap semua unsur PKI, maka itu berarti berhadapan bukan hanya dengan ABRI, melainkan juga umat Islam,” tegas KH.Badri Mashduqi dalam sambutan pengasuh Pondok Pesantren Badridduja pada acara Harlah ke-30 Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo (Kraksaan, 10 Agustus 1996).

Demi keselamatan bangsa Indonesia, KH.Badri Mashduqi tidak ingin perubahan yang revolusioner, malah dalam menyelesaikan masalah kebangsaan, justeru KH.Badri Mashduqi lebih memilih cara tindakan pencegahan, seperti dawuh KH.Badri Mashduqi berikut ini:

“Sikap kita dalam menghadapi dan menanggulangi gejala-gejala yang tidak baik hendaknya harus berpijak pada kaidah agama: Al-wiqoyatu khairun min al-‘ilaaji, tindakan preventif jauh lebih baik daripada tindakan kuratif dan represif. Kalau ketahuan ada api, dalam memadamkannya jangan tunggu timbulnya kebakaran. Daripada berobat lebih baik menjaga diri jangan kejangkitan penyakit”

KH.Badri Mashduqi menyikapi perubahan revolusioner justeru menurutnya bahwa gerakan semacam demikian akan mengguncang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, “Perubahan yang revolusioner justeru akan akan mengguncang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kerugian yang amat dahsyat. Rakyat pasti akan lebih menderita dan sengsara.”

Jika kita menengok kembali sejarah kebangsaan kita, pada saat Pak Harto (Soeharto) tumbang dari jabatan Presiden pada tahun 1998, dengan kekuatan demonstrasi rakyat hingga rakyat sendiri yang menjadi korbannya. Jadi, beliau amat menghindari cara yang revolusioner. Dan cara inilah sebagai bentuk kecintaan KH.Badri Mashduqi kepada rakyat Indonesia secara keseluruhan. “Selamatnya Orba (Orde Baru) dari macam-macam cobaan yang kalau berhasil bisa merubah arah perjalanan bangsa atau GBHN, seperti peristiwa Malari dan Peristiwa Kelabu 27 Juli 1996. Demi keselamatan Orba di masa depan, maka Orba yang sudah ada tidak perlu dirombak dan diganti dengan Orde yang lebih baru. Perubahan yang revolusioner justeru akan mengguncang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kerugian yang amat dahsyat. Rakyat pasti akan lebih menderita dan sengsara. Maka Orba harus tetap dipertahankan. Tapi, kalau salah, ya diperbaiki, kalau kurang ya disempurnakan. Kalau kotor ya dibersihkan, dan kalau lemah ya diperkuat. Sebab, kalau tidak, ya akan berpenyakit dan akhirnya menjadi sakit.”

Sebagai panutan bangsa, di akhir hayatnya KH.Badri Mashduqi justeru lebih menyikapi keberadaan bangsa Indonesia penuh syukur, “Hal yang perlu jadi perhatian umat Islam Indonesia ialah agar banyak bersyukur,” tegas KH.Badri Mashduqi. “Walaupun Indonesia tidak berpredikat negara Islam, namun kenyataanya negara kita dalam keadaan aman dan tenteram. Kalau kita perbandingkan dengan negara-negara yang berpredikat Islam, ternyata mengalami banyak pergolakan dalam negeri, berupa perang saudara atau bentuk-bentuk konflik lainnya yang tidak mudah diatasi. Seperti yang terjadi di Aljazair, Tunisia, Pakistan dan Afghanistan. Sedangkan Indonesia yang negara maritim, banyak pulau, banyak suku dan banyak bahasa, alhamdulillah, tidak menghadapi cobaan semacam itu. Orang Jawa sekalipun mayoritas tidak memaksakan bahasa Jawa menjadi bahasa nasional. Barangkali dari negara yang mampu mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam kemajemukan dan keanekaragamannya, sulit mencari tandingan seperti Indonesia.”

KH.Badri Mashduqi, selain bergelut dalam dunia pendidikan pesantren (Pengasuh Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo), apabila menyangkut soal agama, bangsa dan negara, beliau amat sensitif dalam menyikapinya. Khususnya tentang peran sejarah kebangsaan, terutama bangsa kita yang mayoritas muslim, beliau berharap besar agar kejadian-kejadian atau peristiwa yang banyak memakan korban tidak terulang kembali. “Jangan lupa bahwa umat Islam mayoritas, diharapkan jangan terulang trauma seperti dalam peristiwa Tanjung Priok, Timtim, Lampung, Aceh, dan sebagainya,” tegas KH.Badri Mashduqi.

Harapan beliau juga agar pemerintah atau yang berada dalam birokrasi, agar tidak menjadi birokrasi yang korup, “Birokrasi yang korup, suka kolusi dan konspirasi, mudah kejangkitan penyakit, mudah mengorbankan instabilitas.”

#Referensi: Dokumen dan Kearsipan lembaga Syaikh Badri Institute (SBI)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed