Demi Keselamatan Bangsa, KH.Badri Mashduqi Tak Ingin Perubahan Revolusioner

KH.Badri Mashduqi adalah seorang ulama Probolinggo Jawa Timur, yang mencintai rakyat dengan sepenuh jiwa. Selama hidupnya, perjuangan demi agama, bangsa dan negara (Indonesia), beliau rela berjuang walau nyawa sebagai taruhannya. Terbukti, pada tahun 1977, beliau dipenjara demi memperjuangan nilai-nilai Pancasila. Baginya, Pancasila tak sekedar slogan tapi harus diperjuangkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sampai kapanpun. Pada peristiwa Gestapu PKI, KH.Badri Mashduqi menjadi penggerak utama, terlibat aktif, khususnya di wilayah Kraksaan Probolinggo. “Pada peristiwa 1965, alhamdulillah kami terlibat aktif dalam penumpasan Gestapu PKI di wilayah kami. Maka kalau ada yang menyayangkan terjadinya aksi-aksi pengganyangan terhadap semua unsur PKI, maka itu berarti berhadapan bukan hanya dengan ABRI, melainkan juga umat Islam,” tegas KH.Badri Mashduqi dalam sambutan pengasuh Pondok Pesantren Badridduja pada acara Harlah ke-30 Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo (Kraksaan, 10 Agustus 1996).

Demi keselamatan bangsa Indonesia, KH.Badri Mashduqi tidak ingin perubahan yang revolusioner, malah dalam menyelesaikan masalah kebangsaan, justeru KH.Badri Mashduqi lebih memilih cara tindakan pencegahan, seperti dawuh KH.Badri Mashduqi berikut ini:

“Sikap kita dalam menghadapi dan menanggulangi gejala-gejala yang tidak baik hendaknya harus berpijak pada kaidah agama: Al-wiqoyatu khairun min al-‘ilaaji, tindakan preventif jauh lebih baik daripada tindakan kuratif dan represif. Kalau ketahuan ada api, dalam memadamkannya jangan tunggu timbulnya kebakaran. Daripada berobat lebih baik menjaga diri jangan kejangkitan penyakit”

KH.Badri Mashduqi menyikapi perubahan revolusioner justeru menurutnya bahwa gerakan semacam demikian akan mengguncang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, “Perubahan yang revolusioner justeru akan akan mengguncang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kerugian yang amat dahsyat. Rakyat pasti akan lebih menderita dan sengsara.”

Jika kita menengok kembali sejarah kebangsaan kita, pada saat Pak Harto (Soeharto) tumbang dari jabatan Presiden pada tahun 1998, dengan kekuatan demonstrasi rakyat hingga rakyat sendiri yang menjadi korbannya. Jadi, beliau amat menghindari cara yang revolusioner. Dan cara inilah sebagai bentuk kecintaan KH.Badri Mashduqi kepada rakyat Indonesia secara keseluruhan. “Selamatnya Orba (Orde Baru) dari macam-macam cobaan yang kalau berhasil bisa merubah arah perjalanan bangsa atau GBHN, seperti peristiwa Malari dan Peristiwa Kelabu 27 Juli 1996. Demi keselamatan Orba di masa depan, maka Orba yang sudah ada tidak perlu dirombak dan diganti dengan Orde yang lebih baru. Perubahan yang revolusioner justeru akan mengguncang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kerugian yang amat dahsyat. Rakyat pasti akan lebih menderita dan sengsara. Maka Orba harus tetap dipertahankan. Tapi, kalau salah, ya diperbaiki, kalau kurang ya disempurnakan. Kalau kotor ya dibersihkan, dan kalau lemah ya diperkuat. Sebab, kalau tidak, ya akan berpenyakit dan akhirnya menjadi sakit.”

Sebagai panutan bangsa, di akhir hayatnya KH.Badri Mashduqi justeru lebih menyikapi keberadaan bangsa Indonesia penuh syukur, “Hal yang perlu jadi perhatian umat Islam Indonesia ialah agar banyak bersyukur,” tegas KH.Badri Mashduqi. “Walaupun Indonesia tidak berpredikat negara Islam, namun kenyataanya negara kita dalam keadaan aman dan tenteram. Kalau kita perbandingkan dengan negara-negara yang berpredikat Islam, ternyata mengalami banyak pergolakan dalam negeri, berupa perang saudara atau bentuk-bentuk konflik lainnya yang tidak mudah diatasi. Seperti yang terjadi di Aljazair, Tunisia, Pakistan dan Afghanistan. Sedangkan Indonesia yang negara maritim, banyak pulau, banyak suku dan banyak bahasa, alhamdulillah, tidak menghadapi cobaan semacam itu. Orang Jawa sekalipun mayoritas tidak memaksakan bahasa Jawa menjadi bahasa nasional. Barangkali dari negara yang mampu mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam kemajemukan dan keanekaragamannya, sulit mencari tandingan seperti Indonesia.”

KH.Badri Mashduqi, selain bergelut dalam dunia pendidikan pesantren (Pengasuh Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo), apabila menyangkut soal agama, bangsa dan negara, beliau amat sensitif dalam menyikapinya. Khususnya tentang peran sejarah kebangsaan, terutama bangsa kita yang mayoritas muslim, beliau berharap besar agar kejadian-kejadian atau peristiwa yang banyak memakan korban tidak terulang kembali. “Jangan lupa bahwa umat Islam mayoritas, diharapkan jangan terulang trauma seperti dalam peristiwa Tanjung Priok, Timtim, Lampung, Aceh, dan sebagainya,” tegas KH.Badri Mashduqi.

Harapan beliau juga agar pemerintah atau yang berada dalam birokrasi, agar tidak menjadi birokrasi yang korup, “Birokrasi yang korup, suka kolusi dan konspirasi, mudah kejangkitan penyakit, mudah mengorbankan instabilitas.”

#Referensi: Dokumen dan Kearsipan lembaga Syaikh Badri Institute (SBI)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed