KH.Badri Mashduqi, Menatap Indonesia Penuh Syukur, Lalu Bagaimana dengan Kita?

Kala Soeharto berkuasa di Republik ini (Indonesia), banyak kritik pun banyak yang memujinya. Diantaranya, adalah KH.Badri Mashduqi yang tidak sebatas mempunyai pemikiran kritis terhadap pemerintah, tapi beliau juga mengagumi keberhasilan Presiden Soeharto seraya Kiai Badri menatap Indonesia penuh dengan syukur. Sebab, menurut KH.Badri Mashduqi, bahwa kriteria seorang pemimpin bangsa adalah mensyukurinya terhadap keberhasilan-keberhasilannya. Bagi Kiai Badri, pentingnya mensyukuri terhadap keberhasilan yang telah dicapainya akan berpengaruh terhadap bangsanya dan bangsa ini akan terhindar (tidak terkena) bencana. Berikut KH.Badri Mashduqi menyatakan: “Seorang pemimpin harus pandai bersyukur karena itu akan berpengaruh pada bangsanya. Tanpa bersyukur kita bisa terkena bencana.” (Saifullah, Kiai Bahtsul Masail: Kiprah dan Keteladanan KH.Badri Mashduqi, 2016).

“Kami ingin mensyukuri paling sedikit 5 nikmat,” tegasnya KH.Badri Mashduqi kala beliau mengisi sambutannya selaku pengasuh pesantren dalam acara Harlah ke-30 Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo yang berlangsung pada 10 Agustus 1996. Di hadapan hadirin, termasuk para pejabat yang menghadiri pada peringatan Harlah di pesantren ini (Badridduja), KH.Badri Mashduqi menyampaikan pernyataan syukurnya. Apa saja kelima nikmat yang patut disyukuri oleh KH.Badri Mashduqi?

Pertama, nikmat kemerdekaan RI. Kedua, hapusnya komunisme, Marxisme dan Leninisme. Ketiga, stabilitas nasional yang didukung oleh adanya: (a) Konsensus nasional bahwa Pancasila merupakan satu-satunya asas berbangsa dan bernegara. Konsensus ini harus terus dipelihara, mengingat ada komentar Pak Harto yang menegaskan, bahwa Pancasila tidak akan menggantikan agama, dan sebaliknya, agama tidak akan menggantikan Pancasila. (b) Kemanunggalan ABRI-Rakyat, dimana ABRI sebagai ikan ternyata terbukti lebih militan dari rakyat seluruhnya, sedangkan rakyat sebagai air, dimana ikan tentu saja tidak bisa hidup tanpa air. Dan demikian kemanunggalan ABRI-Rakyat demi kepentingan stabilitas nasional harus lebih dimantapkan dan ditingkatkan pembinaannya. Keempat, nikmat Orde Baru yang berhasil meletakkan dasar-dasar pembangunan nasional yang terencana, terprogram dan terarah dengan baik, sehingga pembangunan di Indonesia dapat berlangsung secara berkesinambungan. Dan kelima, selamatnya Orba dari macam-macam cobaan yang kalau berhasil bisa merubah arah perjalanan bangsa atau GBHN, seperti peristiwa Malari dan Peristiwa Kelabu 27 Juli 1996.

Selain kelima tersebut, KH.Badri Mashduqi mengakui ketika Pak Harto berkuasa, yaitu maraknya kehidupan beragama yang amat nyata dan tak dapat ditutup-tutupi, sebagai dampak positif dari stabilitas nasional yang dinamis. “Kita menyaksikan, kantor-kantor punya Musalla, membeludaknya calon-calon haji, berdirinya Peradilan Agama, Bank Syariat, dan seterusnya,” tegasnya.

Nah, sekarang Pak Harto telah tiada. Setelah Pak Harto berkuasa (1998), baru digantikan Bapak BJ. Habibie (Presiden ke-3), kemudian KH.Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (Presiden ke-4), setelah Gus Dur berkuasa kemudian digantikan Ibu Megawati Soekarnoputri (Presiden ke-5), setelah Ibu Mega berkuasa kemudian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden ke-6), dan sekarang adalah Presiden Joko Widodo (Presiden ke-7).

Dari periode ke periode, sejumlah deretan Presiden Indonesia tersebut, lalu bagaimana selayaknya kita sebagai bangsa yang besar (Indonesia), masihkah kita optimis untuk selalu menatap Indonesia penuh dengan syukur?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed