Kh.Badri Mashduqi, Perintis Dan Motor Penggerak Bahtsul Masa’il

Pada tahun 1976, KH.Badri Mashduqi merintis kegiatan Bahstul Masa’il di tingkat Cabang (NU Kraksaan). Adanya Bahstul Masail di tingkat NU Cabang Kraksaan adalah ide atau gagasan KH.Badri Mashduqi. Beliau menugaskan santrinya, Nahrawi (Sentong, Krejengan, Probolinggo), ditugasi untuk memberitahukan ide ini terlebih dulu kepada KH.Zaini Mun’im, di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton. Ketika itu KH.Zaini Mun’im berada dalam kepengurusan NU Wilayah (Jawa Timur). Kemudian pada tanggal 2 Mei 1976, kegiatan Bahtsul Masail di tingkat NU Cabang Kraksaan digelar di Pondok Pesantren Badridduja, Kraksaan Probolinggo. Hadir dalam kegiatan Bahtsul Masail yang pertama ini, seperti, KH.Hasan Abdul Wafi (PP Nurul Jadid Paiton), KH.Rofi’i Abdul Karim (Sentong Krejengan) dan KH.Abu Hasan (Sukodadi Paiton). Dari luar daerah, yang hadir seperti, KH.Muntaha dari Bangil dan KH.Syamsul dari Situbondo yang biasa dipanggil K.Ramben. Setelah beberapa lama sukses kegiatan Bahstul Masail di tingkat Cabang, kemudian berkembang luas di tingkat MWC-MWC dengan berpindah-pindah tempat.

Pelaksanaan Bahtsul Masail tidaklah gampang karena terlebih dulu harus ijin ke pihak kepolisian, ke Polsek, kemudian ke Polres Probolinggo dan dilanjutkan ke pihak kepolisian di Malang. Memang dalam setiap kali pelaksanaan kegiatan-kegiatan, seperti acara pengajian terlebih dulu ijin ke pihak kepolisian. Untuk kegiatan Bahtsul Masail pertama di tingkat NU Cabang Kraksaan, kegiatan ini dipantau langsung oleh pihak polisi di tempat acara, di Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan.

Di jajaran PWNU, KH.Badri Mashduqi juga dikenal sebagai panglima (motor penggerak) kegiatan tokoh-tokoh semisal KH.Mahrus Ali (Lirboyo), KH.Kholil AG. (Bangkalan), KH.As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), KH.Ahmad Shiddiq (Jember), dan lain sebagainya dalam menggerakkan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Bersama mereka, KH.Badri Mashduqi menjadi tim perumus pembahasan masalah sosial keagamaan di tingkat regional maupun nasional. Seperti juga, pada tanggal 10, Juni 1979, KH.Badri Mashduqi menjadi tim perumus Masail Syuriyah di Muktamar NU yang ke 26 di Semarang. Tujuh kiai sebagai perumus dalam Muktamar ini, KH.Zainul Abidin Fikri (Sumatera), KH.Badri Mashduqi (Jawa Timur), KH.Sathibi (Jawa Barat), KH.Misytari (Sulawesi), KH.Mukri, MA. (Kalimantan), KH.Ali Yafi’ (al-Idaroh al-Markaziyah lihaiati as-Syuriyah) dan KH.Aminuddin Aziz (al-Idaroh al-Markaziyah lihaiati as-Syuriyah). Pimpinan sidangnya adalah Rais Aam lil Idaroh al-Markaziyah lihaiati as-Syuriyah, KH.Bisri Syansuri.

#Referensi: Wawancara bersama KH.Nahrawi (alumni PP Badridduja Kraksaan) di Sentong Krejengan Probolinggo (28 Agustus 2016), buku Kiai Bahtsul Masa’il Kiprah dan Keteladanan KH. badri Mashduqi, dan dokumen NU di Perpustakaan lembaga Syaikh Badri Institute (SBI).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed