Santri Lokomotif

“Jadilah SANTRI LOKOMOTIF,jangan menjadi gerbong! Lokomotif bisa Menggerakkan, Mendorong dan bisa Menarik. Tapi kalau gerbong tidak bisa menggerakkan, tidak bisa mendorong dan tidak bisa menarik”

KH.Badri Mashduqi

“SANTRI LOKOMOTIF,” adalah istilah khas KH.Badri Mashduqi. Istilah ini memiliki arti mendalam, inspiratif serta berisikan motivasi. Santri semacam ini, tidak sebatas berbekal ilmu pengetahuan atau teori saja, “SANTRI LOKOMOTIF” menjadi santri yang dapat “menggerakkan,” “mendorong,” dan “menarik.”

Lebih detail KHR. Amiruddin Jazuli menjelaskan dauh Kiai Badri tentang, “SANTRI LOKOMOTIF,” berikut ini:

Kalau hanya jadi “gerbong,” selagi tidak ada yang mendorong dan tidak ada yang menariknya, maka gerbong tersebut tidak akan berjalan. Agar gerbong itu dapat berjalan, bagaimana? Harus mempunyai “lokomotif.” Untuk menjadi lokomotif, Kiai Badri memberikan semangat, dengan memotivasi santri, berikut ini:

Aku ingin punya jasa, sebab kalau diri ini ingin punya jasa maka akan berpikir: JASA APAKAH YANG SAYA BERIKAN, jasa yang dapat diberikan kepada masyarakat, khususnya jasa kepada pesantren?Dan orang yang punya jasa tidak perlu mengatakan: “Saya punya jasa kepadamu.” Tapi yang pasti orang-orang bisa mengingatnya sendiri tentang siapakah yang telah berjasa: “O, seperti itulah orang yang punya jasa pada saya.” Jadi, kalau orang yang punya jasa maka kemudian dia akan berpikir: “JASA APA YANG SAYA BERIKAN.”

Kiai Amir sendiri menyatakan: “Kalau ingin cepat punya jasa, jangan meneng, langsung bergerak…!”

KH.Badri Mashduqi memberikan “cara” atau “langkah-langkah” agar santri mempunyai jasa. Pertama: Sebagai pelopor terwujudnya sebuah kumpulan-kumpulan, komunitas-komunitas atau organisasi-organisasi. Dari sinilah kemudian baru tercipta ide-ide, gagasan-gagasan, konsep-konsep—untuk melahirkan program kerja—sehingga kegiatan-kegiatan lebih mudah dilakukan. Kedua: Lakukanlah sesuatu tanpa terlebih dulu terbebani oleh biaya. Sebab, apabila melakukan sesuatu, lantas beban utamanya karena biaya maka program kerja organisasinya sulit diwujudkan. Istilah Kiai Amir, “Hidup dulu, rejeki datang kemudian.” Tentu saja, organisasi yang dimaksud di sini adalah organisasi yang baru berdiri atau masih tahap awal, atau memang belum memadai dalam hal membiayai program kerjanya. Karena itu amat dibutuhkan semangat kerja yang maksimal. Tentu saja pula, dalam hal organisasi masih banyak hal untuk menopang agar organisasi dapat berjalan lancar dan sesuai harapan.

#KHR. Amiruddin Jazuli adalah santri senior Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan. Beliau mulai mondok pada tahun 1967, awal tahun berdirinya Pondok Pesantren Badridduja. Saat ini beliau sebagai pengasuh pesantren Al-Ihsan di Sumenep Madura dan aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed