Kiai Badri Mashduqi Dan Kiai Maimun Zubair, Ulama Pencerah Terhadap Agama Dan Bangsa

KH.Badri Mashduqi, Kraksaan Probolinggo Jawa Timur dan KH.Maimun Zubair, Sarang Jawa Tengah. Keduanya adalah ulama pencerah terhadap agama dan bangsa (Indonesia)

Sekilas tentang kelahiran kedua ulama tersebut. KH.Badri Mashduqi memang jauh lebih muda dibanding KH.Maimun Zubair yang akrap disapa Mbah Moen. Kiai Badri lahir pada masa Jepang menjajah negara kita alias sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada 1 Juni 1942, di Prenduan Sumenep Madura. Sementara Mbah Moen lahir di Rembang pada 28 Oktober 1928, bertepatan saat Sumpah Pemuda diikrarkan. Kiai Badri adalah pendiri pondok pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo, Jawa Timur, dan Mbah Moen adalah pimpinan pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang.

Sepanjang hidupnya, keduanya, baik Mbah Moen maupun Kiai Badri dikenal sebagai seorang alim, ahli fikih, sekaligus penggerak baik di lingkungan organisasi keagamaan maupun pada kehidupan politik. Dalam dunia dakwah, isi dakwahnya cukup diminati oleh umat karena orientasi dakwahnya penuh kedamaian, menjaga persatuan dan kesatuan di negeri tercinta ini (Indonesia).

Seorang peneliti Institut Hasyim Muzadi (IHS) Depok Jawa Barat, Charirie Makmun menyatakan, “Syeikh Romadhon al Buthi, ulama besar Aswaja beraqidah Asy’ariyah dan bermadzhab Syafi’i ketika beliau masih hidup selalu menjadi rujukan ulama Indonesia, termasuk di antaranya adalah Kiai Hasyim Muzadi Ketua Umum PBNU 1999-2010, Kiai Maimun Zubair, Sarang, Kiai, Kiai Badri Mashduqi, pengasuh Pesantren Badridduja Probolinggo dan Kiai-kiai nusantara lainnya.”

Pada sekitar tahun 1998, Charirie menyatakan, “Saya menyaksikan ketiga kiai tersebut sangat intens berkunjung ke Syria untuk silaturahmi dengan para ulama di negeri Syam, termasuk Syeikh Buthi. Bahkan, para Gus putra-putra mereka juga dikirim untuk menuntut ilmu di Damascus.”

Para Kiai nusantara melanjutkan tradisi membangun jaringan dengan para ulama di Syria. Inilah salah satu cara untuk menghidupkan ketersambungan sanad ilmu para ulama nusantara dengan ulama-ulama di Timur Tengah yang bergenre sama, yaitu aqidah ahlussunnah waljamaah. (BANGSAONLINE.com, Minggu, 19 November 2017).

Pada masanya, di Ma’had Ali lil Fiqhil Islamiyah Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, KH.Badri Mashduqi, KH.Maimun Zubair bersama para kiai atau ulama-ulama masyhur lainnya termasuk deretan para pengajar atau sebagai Dosennya. Dengan demikian menunjukkan bahwa sisi keulamaan mereka menjadi referensi oleh banyak kalangan terutama bagi mereka yang menjadi santri, murid atau jamaah kedua ulama tersebut

Hubungan KH.Badri Mashduqi dengan KH.Maimun Zubair dapat pula diketahui, putra Almarhum KH.Badri Mashduqi (KH.Muzayyan Badri) tercatat sebagai santri Pesantren Al-Anwar di bawah asuhan Alm. KH.Maimun Zubair.

Dalam hubungan perpolitikan dan kebangsaan, KH.Badri Mashduqi dan KH.Maimun Zubair adalah di antara ulama yang berpengaruh baik di tingkat regional maupun nasional. Keduanya memberikan andil besar terhadap gerak laju dan perkembangan politik (PPP). Kiai Badri, ketika NU menjadi partai politik (1971) dan pada masa fusi NU dalam PPP (1977-1982), Kiai Badri tampil sebagai juru kampanye yang sangat brilian. Sementara Mbah Moen, sesepuh PPP, sebagai Ketua Majelis Syariah PPP.

Ketika pencalonan Presiden Soeharto pada periode 1992-1998, Kiai Badri Mashduqi terpampang di berbagai media tingkat nasional agar Pak Harto tetap maju mencalonkan kembali. Kiai Badri juga dikenal sebagai sesepuh Thariqah Tijani di Indonesia serta pimpinan Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo Jawa Timur, memang memiliki jaringan yang luas dengan sederet ulama di tingkat nasional. Salah satunya adalah Kiai Maimun Zubair.

Yang jelas, kedua ulama tersebut adalah amat berjasa kepada agama dan bangsa. Kiai Badri Mashduqi wafat pada Senin, 14 Oktober 2002, dan dikebumikan di samping masjid Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo. Dan, kabar duka menyelimuti Tanah Air. Kiai karismatik KH.Maimun Zubair atau akrab disapa Mbah Moen wafat pada Selasa, 6 Agustus 2019, di Mekkah. Jenazah Mbah Moen dimakamkan di Al Ma’la Mekkah.

Innalillahi wainnailaihi rajiun. Bangsa Indonesia pastinya merasa kehilangan terhadap kedua ulama tersebut. Semoga kita dapat memetik pelajaran dan keteladanan dari keduanya (KH.Badri Mashduqi dan KH. Maimun Zubair). Aamiin.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed